
Dinilai Abai dan Jarang Masuk, Wali Murid dan Guru Desak Pencopotan Kepala SDN Wawoone
SUARASULTRA.COM | KONAWE – Orang tua dan wali murid bersama para guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wawoone, Desa Wukusao, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, kompak mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Konawe agar segera mencopot kepala sekolah setempat.
Desakan tersebut mencuat karena warga dan tenaga pendidik menilai kepala sekolah abai terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Selama lebih dari satu tahun menjabat, kepala SDN Wawoone jarang masuk sekolah dan tidak menunjukkan kepemimpinan yang nyata dalam pengelolaan pendidikan.
“Sekolah ini seperti tidak punya pimpinan,” ujar seorang guru SDN Wawoone yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (10/1/2026).
Guru ini mengungkapkan, kepala sekolah hanya sesekali hadir, bahkan disebut paling sering dua pekan sekali. Akibatnya, berbagai urusan administratif sering tersendat, mulai dari konsultasi guru hingga penandatanganan dokumen penting siswa.
Kondisi sarana dan prasarana sekolah pun dinilai sangat memprihatinkan. Akses internet yang seharusnya menunjang proses pembelajaran yang dilaporkan tidak aktif karena tidak mengganggu.
Fasilitas toilet sekolah tidak mengaliri udara, sehingga siswa mengangkut udara dari rumah warga menggunakan ember untuk keperluan sehari-hari.
Selain itu, listrik di sekolah sering terjadi akibat token yang tidak terisi.
“Pada malam hari sekolah gelap, seperti bangunan tua yang ditinggalkan,” tutur guru tersebut.
Kelalaian itu juga berdampak pada siswa yang telah lulus. Sejumlah siswa disebut harus menunggu cukup lama untuk menerima ijazah karena belum ditandatangani oleh kepala sekolah.
Menurut keterangan guru, keluhan terkait kondisi tersebut telah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe. Namun hingga kini, belum ada respon maupun langkah konkret dari instansi terkait.
“Seolah-olah dibiarkan,” katanya.
Kecewaan serupa juga dirasakan oleh orang tua murid. Beberapa di antaranya bahkan berencana memindahkan anak mereka ke sekolah lain pada akhir semester ini karena menilai kondisi sekolah tidak lagi kondusif.
“Mereka melihat sendiri, sekolah ini tidak terurus. Anak-anak seperti ditelantarkan,” tambahnya.
Seorang warga Desa Wukusao yang juga menanyakan identitasnya dirahasiakan mengatakan Dikbud Konawe tidak boleh menutup mata terhadap masalah tersebut. Menurutnya, pendidikan dasar seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Ini sekolah dasar, tempat anak-anak mulai menimba ilmu. Tapi yang mereka dapatkan justru ketidakpedulian,” ujarnya.
Warga tersebut menambahkan, tanpa kehadiran dan komunikasi dari kepala sekolah, para guru pun sulit melakukan inovasi dan perbaikan. Lingkungan sekolah yang ditumbuhi rumput tinggi dan kondisi bangunan yang kotor semakin memperparah keadaan.
“Bagaimana mau ada inovasi kalau kepala sekolah jarang muncul? Semua mengeluh,” katanya.
Sebagai bentuk keseriusan, warga bersama guru dan tokoh masyarakat saat ini tengah menyiapkan surat pernyataan bersama yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah. Surat tersebut berisi tuntutan agar kepala sekolah segera diganti atau dipindahkan.
“Kalau kepala sekolah jarang masuk dan fasilitas dibiarkan rusak, untuk apa dipertahankan? Pendidikan tidak akan maju,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala SDN Wawoone maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan tersebut.
Redaktur: Sukardi Muhtar

