
Warga Blokade Jalan dan Bakar Ban Tolak Konstatering Lahan Eks PGSD Kendari
SUARASULTRA.COM | KENDARI – Suasana di kawasan Wuawua, Kota Kendari, memanas pada Kamis (20/11/2025) akibat aksi penolakan warga terhadap rencana konstatering lahan eks bangunan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sejak pagi, ratusan warga turun ke jalan dan memblokade akses menuju lokasi pelestarian.
Aksi dimulai sekitar pukul 07.20 WITA ketika massa menumpuk ban bekas di tengah Perempatan Wuawua, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia. Ban-ban tersebut kemudian dibakar sebagai simbol kedatangan, memicu kobaran api yang menyemburkan asap hitam pekat hingga menutup jarak pandang. Arus lalu lintas pun dialihkan oleh pihak kepolisian.
Tak hanya menutup jalan, warga juga membentuk kelompok penjagaan di berbagai titik untuk memastikan tidak ada kendaraan maupun aparat yang dapat mendekati area objek pelestarian. “Pagar hidup” warga menutup rapat seluruh akses lahan menuju eks PGSD.
Sekitar pukul 09.30 WITA, rombongan aparat keamanan bersama tim konstatering dari Pengadilan Negeri Kendari serta Kantor Pertanahan tiba di lokasi. Namun kedatangan mereka langsung disambut penolakan keras oleh massa.
Upaya persuasif yang dilakukan aparat tidak membuahkan hasil. Warga tetap menutup jalan dan tidak memberi ruang bagi tim konstatering untuk melanjutkan tugas mereka. Ketegangan meningkat ketika sejumlah warga mulai melempar batu ke arah aparat, memaksa petugas mundur menghindari tabrakan.
“Tidak bisa. Kami ingin melindungi hak kami,” tegas Linda, salah satu warga yang berada di barisan depan aksi.
Linda menjelaskan bahwa masyarakat meyakini lahan tersebut merupakan tanah warisan keluarga. Oleh karena itu, mereka menuntut transparansi dan meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bukti kepemilikan yang sah.
“Kami hanya meminta bukti kepemilikan Pemprov Sultra. Selama tidak ditunjukkan, kami akan mempertahankan tanah ini,” ujarnya.
Situasi sempat mereda setelah aparat menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa. Langkah tersebut membuka ruang bagi tim terkait untuk masuk ke lokasi dan melanjutkan proses pencocokan objek yang akan dieksekusi.
Hingga berita ini diterbitkan, kondisi di lapangan masih tegang. Aparat belum sepenuhnya dapat memasuki kawasan konstatering, sementara warga tetap bertahan dan menutup akses jalan menuju lokasi.
Laporan: Redaksi

