Wabup Konawe Hadiri Workshop AKPSI, Dorong Penguatan Tata Kelola Sawit dan Peningkatan Kesejahteraan Daerah Penghasil
SUARASULTRA.COM | JAKARTA – Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan perkebunan sektor kelapa sawit sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.
Hal tersebut diwujudkan melalui kehadiran Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE, M.Si pada Workshop Penguatan Pengelolaan Sawit Daerah yang diselenggarakan Asosiasi Kabupaten Penghasil Kelapa Sawit Indonesia (AKPSI) mengusung tema “AKPSI dan Sawit EXPO, Sawit untuk Rakyat”di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Dr.Akhmad Wiyagushal tersebut diikuti para kepala daerah dari berbagai kabupaten penghasil kelapa sawit di Indonesia sebagai wadah untuk memperkuat sinergi dalam mewujudkan tata kelola perkebunan sawit yang berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, para kepala daerah merumuskan sejumlah rekomendasi strategi kepada pemerintah pusat, di antaranya mendorong lahirnya regulasi yang memberikan manfaat langsung kepada daerah penghasil melalui skema bagi hasil dari produksi kelapa sawit.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas fiskal daerah sekaligus mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, menegaskan bahwa daerah penghasil memiliki kontribusi besar terhadap industri kelapa sawit nasional sehingga selayaknya memperoleh manfaat yang seimbang dari sektor tersebut.
“Harapan kami, pemerintah pusat dapat menghadirkan regulasi yang memberikan kontribusi nyata kepada kabupaten penghasil. Dengan demikian, hasil produksi sawit tidak hanya menopang perekonomian nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Syamsul Ibrahim juga menjelaskan bahwa di Sulawesi Tenggara terdapat empat kabupaten penghasil kelapa sawit, yakni Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, dan Bombana, yang memiliki potensi besar dalam mendukung peningkatan produksi sawit nasional.
Menurutnya, prospek sektor sawit semakin menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel melalui program B50 yang tengah dikembangkan pemerintah.
Dengan harga tandan buah segar (TBS) yang berada di kisaran Rp3.600 per kilogram, pengembangan perkebunan sawit diyakini akan memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi petani.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Konawe juga mendorong pembangunan infrastruktur pendukung kawasan perkebunan, termasuk harapan agar PT UAM dapat membangun Jembatan Bailey yang menghubungkan wilayah Angata dengan Konawe Selatan.

Kehadiran akses tersebut diyakini akan memperlancar distribusi hasil perkebunan, menekan biaya transportasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi para petani.
Lokakarya AKPSI juga menghasilkan lima langkah strategi dalam pembersihan lahan sawit, meliputi sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan teknologi, pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, penguatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, serta pelaksanaan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan.
Melalui partisipasi aktif dalam forum nasional ini, Pemerintah Kabupaten Konawe berharap sektor kelapa sawit dapat terus berkembang secara berkelanjutan, memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan sentra perkebunan.
Laporan: Kardi






