Ratusan Warga Morombo Pantai Kepung Kantor Desa, Desak Kades Transparan Soal Dana Pembebasan Lahan
SUARASULTRA.COM | KONUT – Puluhan warga Desa Morombo Pantai, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar aksi pembekuan di depan Kantor Balai Desa Morombo Pantai, Jumat (24/7/2026).
Aksi yang mendominasi kaum ibu tersebut berlangsung dengan membawa sejumlah poster “Turunkan Kepala Desa Morombo Pantai”. Massa kemudian berkumpul di halaman kantor desa untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber internal, aksi itu memicu kekecewaan warga terhadap sikap Kepala Desa Morombo Pantai, Imran Kamal, yang dinilai tidak terbuka terkait proses pembebasan lahan.
Imran Kamal termasuk baru menandatangani proses pembebasan lahan seluas 23,28 hektare bersama salah satu perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Warga meminta penyaluran dana untuk pembebasan lahan. Menurut mereka, hingga kini dana tersebut belum diterima, sementara terdapat informasi bahwa pembayaran dari pihak perusahaan telah dilakukan.
“Informasinya penyediaan lahan sudah selesai, tetapi dananya belum diterima masyarakat. Saat dikonfirmasi ke kepala desa, katanya dana belum masuk. Namun ketika pihak perusahaan ditanya, mereka menyampaikan bahwa dana sudah disalurkan. Itu yang membuat masyarakat akhirnya turun melakukan aksi,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai perusahaan yang dimaksud. Namun berdasarkan informasi dari sumber yang sama, perusahaan tersebut diduga adalah PT Konutara Sejati atau PT CNGR.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Morombo Pantai, Imran Kamal, juga telah dilakukan. Redaksi telah menghubungi yang bersangkutan melalui pesan WhatsApp, namun hingga berita ini diterbitkan belum mendapat tanggapan.
Sementara itu, Kapolsek Wiwirano, IPTU Sero Jerman, membenarkan adanya aksi unjuk rasa yang dilakukan warga Desa Morombo Pantai.
Perwira polisi tersebut menyampaikan bahwa aksi pembekuan telah berakhir dalam kondisi aman dan kondusif.
“Sudah selesai,” singkatnya.
Saat dimintai penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab aksi warga, sambungan telepon dengan Kapolsek Wiwirano terputus. Diduga kondisi jaringan telekomunikasi di wilayah Langgikima tidak stabil.
Laporan: Redaksi






