
Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Indonesia Perlu Menemukan Kembali Identitasnya
Suarasultra.com | Jakarta – Sebuah Panggung Pemikiran Tentang Kebudayaan Indonesia Kembali Menyala Hari Ini Di Golden Ballroom 2, Hotel Sultan, Jakarta, Forum Dalam Kuliah Bertajuk “Polemik Kebudayaan Manusia Indonesia: Dunia Baru Baru Baru.
Acara ini Menghadirkan Menteri Kebudayaan Dr. H. Fadli Zon Sebagai Orator Utama, Diapit Oleh Jajaran PENANGGAP DARI BERBAGAI DISIPLIN, SOSIOLOG DAN SASTRAWAN MADASARI, KETUA KOMISI X DPR RI HETIFAH HETIFAH, KETUA KOMISI X DPR RI HETIFAH HIETIFAH Pemikir Studia Humanika Itb Alfathri Adlin, Filsuf Muhammad Misbahudin, Serta Pendiri Ubud Writers and Readers Festival Janet Deneefe. DISKUSI DIPANDU KHALID ZABIDI, Direktur Komunikasi Institut Besar.
Ketua Dewan Direktur Great Institute, Dr. Syahgada Nainggolan, Membuka Acara Gangan Kritik Bernas Bahwa Elite di Negeri ini Tak Selamanya Membawa Bangsa Menuju Kemerdekaan.
“Elit Harus Paham Budaya. Terutama Budaya di Wilayah Kepemimpinanya Sendiri,” Ujarnya.
Ia Menyesalkan Langkanya Diskusi Kebudayaan Di Ruang Publik Hari Ini, Apalagi Di Layar Televisi. Padahal, Kata Dia, Jika Pembicaraan Soal Budaya Berhenti, Kita Bisa Kehilangan Nilai Keadaban Itu Sendiri.
Syahganda Menyoroti Kegagalan Struktur memahami Kultur, Merujuk Pada Kasus Pati Yang Kini Menghohkan.
“Strukuktur menaikkan PBB Seeenknya, Tanpa Memahami Kultur Masyarakat Yang Sedang Menjerit Karena Tekan Tekan Ekonomi. Maka Terjungkallah Bupati,” Katanya Gelan Nada Getir.
“Kita ini melting pot, Bahkan Sebelum Dunia Menyadarya”
Dalam Orasi Panjang Namun Tak Kehilangan Api, Fadli Zon Mengurai Kembali Sejarah Dialektika Kebudayaan Bangsa ini: Dari Polemik Kebudayaan Padio Ponda-Takange Ponda-Takdir Ponda Ponda-versan Ponda. 1960-an.
Namun, BABI FADLI, Yang Terpenting Bukanlah Menangan. Yang Utama Adalah Pergulatan Pemikiran Itu Sendiri.
“HaruS ada menciptakan kembali identitas Indonesia Penemuan Ulang Jati Diri Indonesia,” Katananya, Seraya Menyebut Dua Karakster Utama Kebudayaan Indonesia: Kekayaan Dan Ketuaan.
“Budaya Kita ini Mega-Diversity. Bukan Sekadar Keberagaman, Tapi Keberlimpahan,” Ujar Fadli Yang Mengaku Suda Mengelilingi 101 Negara.
“Tak Ada Yang Sekaya Indonesia Dalam Hal Budaya, Baik Yang Maupun Tidak berwujud. Yang tidak berwujud saja tercatat 2.213, sementara baru 16 Yang diakui unesco: Dari Wayang, batik, keris, sampai Jamu Dan Reog.”
IA Menyinggung Pasal 32 Ayat 1 Uud 1945, Yang Menyatakan Bahwa “Negara memajukan Kebudayaan Indonesia di Tengah Peradaban Dunia, Daman Kebebasan Nilaiai Dalam MEMELIHARA DANANANKAN DANAIKAN DALANKAN DALAMAN DANAIKAN DALAN MEMELIHARA DANAIKAN MEMELIHARA DANANANKAN MEMELIHARA
Namun, Justru Dalam Kontek Kebebasan Itulah, Fadli Menyiratkan KegelisaHan: “Budaya Kita Sangat Tua. Tapi Kini, Narasi Kebudayaan JuSian Dibih.
DENGAN Mengutip Penemuan-Penemuan Arkeologi, ia menyebut Bahwa homo erectus indonesia telah menyembunyikan 1,8 juta tahun lalu. Gambar-Gambar Gua Tertua Ditemukan Di Muna Dan Maros, Jauh Lebih Tua Dari Lukisan Gua Di Eropa.
“Kita ini melting pot Sejak Dulu Kala. Kita Bukan Tempat Tujuan. Tapi Tempat Keberangkatan,” Ujarnya, Menyiratkan Bahwa Nusantara Adalah Simpul Globalisasi Purba.
Okky: Jangan Ada Narasi Torgal Dalam Kebudayaan
Okky Madasari, Sosiolog Dan Sastrawan Yang Kini Mengajar Di Universitas Nasional Singapura, Berbicara Lugas Dan Tajam. Ia Mengajak Semua Pihak Menengok Wajah Manusia Indonesia Hari Ini, Khususnya Generasi Muda.
“Mereka Itu Kosmopolitan, Kreatif, Dan Resisten. Mereka Bukan Sekadar Pengguna Budaya Global, Tapi Jaga Penantang,” Katananya.
Okky Menegaska, Sejarah Kebudayaan Bangsa Ini Selalu Diawali Oleh Perlawanan Terhadap Model Domini.
“Sutan Takdir, Hamzah Fansuri, para Pelopor Itu Melakukan Perlawanan Atas Dominasi Wacana,” Ujarnya.
Karena Itu, ia Mendukung Langkah Menulis Ulang Sejarah Indonesia. TAPI DENGAN SATU SYARAT: “Penulisan Sejarah Haru MELIBATKAN Publik, Akademisi, Sastrawan, Bukan Hanya Pemerintah. Forum Haus Ada Bersama.”
Yang Lebih Penting, Tegasnya, Adalah Kebebasan Berbicara Dan Berkebudayaan.
“Jangan Ada Pembunckaman. Jangan Ada Narasi Torgal,” Katananya, Menyuarakan Kegalauan Banyak Kalangan Yangan Merasa Ruang-Ruang Kritik Sempit Sempit.
Alfathri: Pendidikan Kini Sekadar Mencetak Tukang
Dari Sudut Pemikiran Filosofis, Alfathri Adlin Memulai Delangan Mengutip Hegel: “Masyarakat Dan Pemerintah Tak Pernah Belajar Dari Sejarah. Mereka Terus Mengulang Kesalanan Yang Sama”.
Ia Menyentil Konsep Putih Burden Yang Menjadi Justifikasi Kolonialisme, Sekaligus Menyalahkan Sistem Pendidikan Kita Hari Ini Yang Masih Menurunkan Warisan Barat Secara Mimbabi Buta.
“Pendidikan Kita Hanya Mencetak Tukang. Bukan Pencinta Ilmu. Padahal, Menuru Islam, Setiap Orang DiCiptakan Delangan Khusus,” Ujarnya, Menyiratkan Dalanya Lalanya Pendidikan Berbase Noilata Nilaai Noilat Nilaai Nilaai Nilaai Noilat Darana Darana Darana Darana Darana Darana Darana Berbase Nilaai Darana Teknokratik.
Hanief Adrian: Sriwijaya Adalah Zabazh, Pusat Budaya Emas Dunia
Peneliti Great Institute, Hanief Adrian, Memperuat Argumen Fadli Tentang Kebesaran Masa Lalu Bangsa ini. Ia Mengutip Catatan Sebarah Tentang Sriwijaya Yang Denkenal Sebagai Zabazh Di Afrika.
“Zabazh Memperkenalkan Budaya Emas Ke Afrika, Yang Lalu Dinikmati Eropa Dan Arab. Tapi Budaya Emas Itu Data Dari Swarna Dwipa Sumatra,” Ujar Hanief.
Menurutnya, Kita Butuh Keberanian untuk Mengklaim Sejarah Kita Sendiri. “Kalau Kita Tak Menulisnya, Orang Lain Akan Menulis Versi Mereka, Dan Kita Tinggal Jadi Objek,” Katananya, Mengingatkan.
Ruang Dialektika Yang Hampir Hilang
Ketika Para Pembicara Mulai Beringsut Dari Kursi Mereka, Ballroom Suasana Itu Belum Kehilangan Riak Semangat. Tak Ada Tepuk Tangan Meriah, Tapi Justru Ada Keheningan Yang Khusyuk. Seperti Saat Suara Keras Berganti Gema Yang Pelan, Namun Tetap Menggetarkan.
Indonesia, Seperti Yang Digambitan Oleh Mereka Hari ini, Adalah Negeri Yang Mewarisi Suara Dari Gua-Gua Purba, Yang Pernah Menjadi Pusat Dunia, Namun Kini Nyaris Kehilangan Panggung UNTUK Berdialektika.
Kita Butuh Kebudayaan Yang Hidup, Bukan Yang Dibekukan Dalam Museum Atau Dijadikan Sekadar Dekorasi Festival. Butuh Pemimpin Yang Mengerti Kultur, Bukan Hanya Struktur. Butuh Ruang Bagi Keragaman Suara, Bukan Hanya Pengeras Narasi Torgygal.
“Kebenaran Tidak Pernah Dimonopoli Oleh Satu Suara,” Ujar Okky. Dan Dalam Riuh Zaman Ini, Suara Itu Terdengar Seperti Doa Yang Disampaikan Lewat Mikrofon.
Dalam Kebisingan Dunia Baru Yang Seringkali Menelan Jejak Sejarah Dan Mengabaan Nilai-Nilai Lama, Diskusi Semacam Ini Adalah Oase Intelektual Yang Langka. Jika Kebudayaan Adalah Cermin Bangsa, Maka Sudah Saatnya Kita Anggota Kaca Kaca ITU KABUT KEKUASAAN DAN PRASANGKA.
Seperti Kata Imam Ali bin Abi Thalib, “Seseorang Yang Tidak Mengetahui Sejarahnya, Maka ia Akan Tersesat Dalam Perjalanan Hidupnya.” Dan Hari Ini, Dalam Ruangan Itu, Secercah Cahaya Telah Menuntun Kita Kembali Melihat Peta Jalan Lama Menuju Jati Diri Yang (Masih) Munckin Diselamatkan. **
Editor: Redaksi



