Pengamat: Diplomasi Prabowo Tingkatkan Posisi Tawar Indonesia di Mata Dunia
SUARASULTRA.COM | JAKARTA – Pergeseran arah pembangunan dan diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai mendapat perhatian dan apresiasi dari komunitas internasional. Hal itu tercermin dari rangkaian kunjungan sejumlah pemimpin dunia ke Indonesia dalam waktu yang berdekatan.
Presiden Belarusia Aleksander Lukashenko melakukan kunjungan kenegaraan pada 2–4 Juli 2026, mensusul Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada 6 Juli, serta Perdana Menteri India Narendra Modi pada 6–7 Juli 2026.
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr.Teguh Santosamenilai intensitas kunjungan tersebut menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan dunia terhadap arah pembangunan baru Indonesia yang mengedepankan peran negara (state-driven orientasi) dalam memperkuat fondasi ekonomi dan politik nasional.
“Pemimpin-pemimpin dunia melihat dan mengapresiasi pendekatan baru yang diterapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Orientasi pembangunan yang memberikan peran besar kepada negara bertujuan memperkuat fondasi ekonomi dan politik Indonesia di panggung global. Ini merupakan perkembangan yang positif,” ujar Teguh, Senin (6/7/2026).
Terkait kunjungan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Teguh menilai hubungan Indonesia-Singapura kini memasuki babak baru. Selama ini, hubungan kedua negara sering dilihat mengikuti pola pusat-pinggirandi mana Indonesia lebih banyak berperan sebagai pemasok nilai tambah ekonomi bagi Singapura.
Namun, melalui 26 perjanjian dan kesepakatan yang ditandatangani dalam pertemuan Retret Pemimpin di Istana Negara, Indonesia menunjukkan komitmen membangun kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan (saling menguntungkan).
Meski begitu, Teguh mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru berada di dalam negeri. Menurutnya, seluruh jajaran pemerintahan, mulai dari menteri koordinator, para menteri, hingga pelaksana teknis di lapangan, harus mampu menerjemahkan visi besar Presiden ke dalam implementasi yang konsisten.
“Mereka harus bergerak seirama dengan kebijakan besar Presiden Prabowo yang menjadi ruh dari seluruh kesepakatan tersebut,” tegasnya.
Ia menambahkan, kendala terbesar dalam berbagai kerja sama internasional selama ini sering kali bukan terletak pada proses negosiasi, melainkan pada pelaksanaan di tingkat teknis. Oleh karena itu diperlukan disiplin, koordinasi, dan ketelitian agar setiap perjanjian dapat memberikan manfaat nyata bagi Indonesia.
Menurut Teguh, kerja sama internasional bukan sekedar berharap negara lain memberikan keuntungan, namun bagaimana Indonesia mampu memperjuangkan kepentingan di meja perundingan dan mendengarkannya secara serius dalam implementasinya.
Menangapi dinamika geopolitik global, termasuk respons negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, Teguh menilai kedua negara memahami bahwa setiap bangsa memiliki kepentingan nasional yang harus diperjuangkan.
Ia pun menekankan pentingnya memperkuat posisi tawar Indonesia dalam setiap kerja sama internasional.
“Kita tidak boleh terus berada pada posisi pinggiran, tetapi harus memperjuangkan yang lebih sentral dan memberikan keuntungan bagi kepentingan kepentingan,” tutup posisi.
Dengan kesiapan internal yang kuat serta penerapan kebijakan yang konsisten, kerja sama strategis Indonesia dengan Singapura maupun negara-negara sahabat lainnya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.***






